Bedah Buku : The Little Book of Valuation by Aswath Damodaran

Berikut adalah bedah buku ketiga yang baru saja dipresentasikan oleh @JaneSingleton di Jim Bear Club.

All valuations are biased.. you almost never start valuing a company with a blank slate – Damodaran

Ada 5 tema besar yang disajikan Prof Damodaran di buku ini. Lima tema besar tersebut:

1. Foundation (Konsep, Pendekatan)
2. Intrinsic Valuation
3. Relative Valuation
4. Valuasi perusahaan sesuai siklusnya (life cycle)
5. Valuasi untuk kasus-kasus khusus

Tema 1 – FOUNDATION

Konsep

Main principle in investing: an investor does not pay more for an asset than it is worth. Untuk tahu berapa value/nilainya maka kita dalam konteks sebagai investor pasar modal perlu tahu cara valuasi suatu emiten.

Kesalahpahaman dalam valuasi:

Kesalahpahaman 1: Tujuan dari valuasi adalah untuk mendapatkan nilai saham yang sebenarnya (‘true’ value)

o All valuations are biased
Pada saat seseorang memilih suatu emiten yang akan dianalisa/divaluasi, biasanya sudah ada pre-conception mengenai emiten tersebut: emiten ini ada di porto samwan, foreign big fund manager lagi akumulasi sahamnya, ada ‘news’ mengenai emiten ini media, terlanjur punya sahamnya di porto, dsb. Secara tidak sadar bias ini akan masuk dalam model valuasi yang dilakukan, bisa jadi dalam perhitungan forecast growth yang terlalu optimis, memandang emiten ini tidak akan bangkrut (safe/less risky), dsb.

Yang perlu dilakukan adalah menyadari bias ini dan dicatat apa saja biasnya, jadi saat melakukan valuasi bisa di-crosscheck dengan daftar biasnya. Karena ada bias dalam valuasi, maka valuasi yang didapatkan bisa berbeda-beda untuk tiap orang, jadi tidak ada ‘true’ value yang acceptable/applicable untuk semua orang.

Kesalahpahaman 2: Valuasi yang bagus adalah valuasi yang menghasilkan estimasi yang akurat.

o Tidak ada valuasi yang akurat karena pada dasarnya kita melakukan forecast dan sangat memungkinkan forecast yang kita lakukan tidak match dengan actual/real numbernya. Misal di tahun depan kita forecast emiten A revenue growth-nya bakal naik 10% tahun depan. Ternyata di tahun tersebut rev growthnya cuma 5%. Dari situ kita bisa analisa apakah kita terlalu optimis saat put growth rate? Apakah underestimate kompetitor? Story yang kita build tidak memperhitungkan regulasi pemerintah? dsb. Jadi makin banyak salahnya makin nambah ilmunya.

Kesalahpahaman 3: Semakin kompleks model valuasi yang digunakan, semakin bagus hasilnya.

o Semakin simpel model valuasi yang digunakan dan benar-benar dikuasai, itu lebih baik dibanding menggunakan model yang kompleks. Semakin kompleks model, butuh data input yang lebih banyak, dan akan lebih tinggi probabilitas kesalahan saat input data.

Pada dasarnya output dari valuasi kita gunakan untuk:
Basis for wait/buy/stay away
Valuasi ini juga dipakai untuk menjawab pertanyaan terakhir dari Pertanyaan Penting Sebelum Membeli Saham

Basis for something to hold on to.
Saat market bearish, panic selling, atau lagi cocktail party, kita punya valuasi tersebut untuk secara jernih dan logis menganalisa apakah jatuhnya saham emiten kita karena kinerja buruk temporarily atau permanently, atau karena isu eksternal yang tidak ada kaitannya dengan bisnis emiten. Kalau kinerja masih ok, harga saham jatuh, kita bisa santai average down. Atau kalau current market sudah tidak sesuai perhitungan valuasi, kita bisa putuskan apakah tetap di-keep atau waktunya dijual. Jadi jangan sampai udah susah payah bedah bisnis emiten, bedah LK, entry and adjust numbers ke model sampai didapat nilai wajar emiten… terus IHSG merah padam ato ijo royo2 dan kita terburu2 buki/haka. Harus jernih dan tetap lihat performa emiten, apakah revenue turun tifis tapi prospek ke depan masih kinclong sedangkan price turun lebih banyak dan masih ok untuk di-haka? Atau management yang baru koplak atau tidak peduli dengan shareholder minoritas atau tidak punya integritas jadi perlu segera buki? Dst.

Valuasi bukan one-time exercise, perlu di-revisit secara berkala untuk memastikan asumsi yang dipakai masih relevan sesuai perkembangan bisnis emiten tersebut atau perlu diadjust dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi bisnis perusahaan.

bridging-the-gap

Pendekatan

Di buku disebutkan ada 2 pendekatan dalam melakukan valuasi

1. Intrinsic Valuation

Dasar valuasi: kemampuan perusahaan untuk generate cash flow di masa mendatang dan tingkat kepastian/ketidakpastian realisasi dari cash flow tersebut (risiko).

Asumsi yang digunakan: market salah kasih harga untuk emiten yang kita valuasi saat ini dan akan terkoreksi di masa depan (long time horizon).

Intrinsic valuation simpelnya adalah kita forecast/estimasi pertumbuhan bisnis perusahaan untuk mendapatkan future cashflownya dan future cash flow-nya diconvert ke nilai saat ini (Discounted Cash Flow). Estimasi pertumbuhan bisnis ini ngga mudah, perlu cari tahu nature bisnis emiten, moat-nya, maturity emiten saat ini, kemampuan/insight managementnya, dll untuk bisa estimasi pertumbuhan kedepannya. Makanya di JBC dianjurkan untuk pahami bisnis emiten dulu sebelum ke valuasi.

2. Relative Valuation

Dasar valuasi: membandingkan harga yang terbentuk di market untuk emiten yang bisnisnya sama dengan emiten yang divaluasi (peer valuation).

Asumsi yang digunakan: harga saat ini di market untuk sektor yang kita valuasi secara rata-rata sudah mencerminkan nilai wajar namun Mr. Market salah kasih harga untuk emiten yang kita valuasi.

Parameter yang digunakan untuk perbandingan: rasio-rasio.

Tema 2 – INTRINSIC VALUATION

Dasar valuasi: kemampuan perusahaan untuk generate cash flow di masa mendatang dan tingkat kepastian/ketidakpastian realisasi dari cash flow tersebut (risiko)

Ada 2 pendekatan:
Firm valuation: valuasi perusahaan secara keseluruhan untuk menghitung potensi cash flow untuk semua stakeholder perusahaan: pemegang saham umum, pemberi utang, pemegang saham preferen
Equity valuation: valuasi equitas perusahaan ut menghitung potensi cash flow untuk pemegang saham umum

Equity valuation lebih simpel karena straightforward. Tapi untuk perusahaan yang ekuitasnya negatif (bisa karena terus menerus rugi atau kebutuhan reinvestment lebih besar dari laba) bisa gunakan firm valuation.

Input:
• Cash flows
• Expected growth rates
• Discount rates
• Terminal values

cashflow valuation

Terminal point adalah suatu waktu yang kita asumsikan perusahaan dalam kondisi:
o Sudah tidak meneruskan bisnisnya (likuidasi)
Terminal value-nya adalah nilai aset hasil likuidasi
o Bisnis tetap jalan selamanya dengan pertumbuhan yang konstan (steady state)
Terminal value-nya adalah total cash flow dari terminal point dan seterusnya selamanya.

Tool:
• DCF (Discounted Cash Flow): Nilai intrinsic dari suatu emiten adalah total expected future cash flow di masa mendatang yang diconvert ke nilainya saat ini (present value).
Output:
• Value per share

Yang harus diperhatikan adalah discount rate harus sesuai dengan cashflow yang digunakan.

dcf

PENUTUP

Model valuasi bisa dibuat simpel hanya dengan langsung estimasi growth rate cashflow untuk tiap stage/siklus bisnis emiten dan apply growth rate tersebut ke cash flow. Atau bisa dibuat lebih kompleks di mana kita estimasi pertumbuhan dan/atau penurunan market share, price per unit untuk dapetin revenue, kenaikan/penurunan HPP, operating cost untuk dapetin margin, investment rate, tax rate, dll untuk masing-masing stage. Jadi kembali ke point awal, kita musti bikin cerita dari bisnis emiten tersebut, dan untuk tahu ini perlu banyak baca/belajar bisnis emiten tsb di masa lalu atau emiten sejenis.

Jadi valuasi bukan hanya sekedar plug in numbers ke rumus tapi mengerti arti dari number yang dipakai beserta asumsi yg dipakai.

Pranala terkait :

1. The Little Book of Valuation : How to Value a Company, Pick a Stock and Profit By Aswath Damodaran

2. The Little Book of Valuation – Situs Damodaran

Review Buku: The Essential Buffett by Robert G. Hagstrom (Terjemahan) Bagian 2

Bagi yang belum, silahkan baca Review Buku: The Essential Buffett by Robert G. Hagstrom (Terjemahan) Bagian 1 terlebih dahulu.

Review Buku : The Essential Buffett by Robert G. Hagstrom (Terjemahan) Bagian 2

Reviewer : @casperrrrrr

WARREN BUFFETT WAY

PRINSIP BISNIS
1. Apakah bisnis itu sederhana dan mudah dimengerti?
2. Apakah bisnis itu memiliki sejarah operasi yang konsisten?
3. Apakah bisnis itu memiliki prospek jangka panjang yang baik?

PRINSIP MANAJEMEN
1. Apakah manajemennya rasional?
2. Apakah manajemen jujur kepada pemegang saham?
3. Apakah manajemen menentang imperatif institusional?

PRINSIP FINANSIAL
1. Fokus pada ROE, bukan EPS
2. Hitung “laba pemilik”
3. Cari perusahaan yang memiliki margin profit tinggi
4. Untuk setiap dolar yang ditahan, pastikan perusahaan menghasilkan satu dolar nilai pasar

PRINSIP PASAR
1. Berapa nilai bisnis itu?
2. Bisakah bisnis itu dibeli dengan diskon signifikan terhadap nilainya?

PRINSIP BISNIS

a. Sebuah bisnis harus sederhana dan mudah dimengerti
Pilihlah perusahaan yang anda mengerti seluk beluknya, dan berinvestasilah di dalam lingkup kompetensi anda.

b. Sebuah bisnis memiliki sejarah operasi yang konsisten
Buffett mengatakan bahwa pengembalian terbaik dicapai oleh perusahaan yang memproduksi produk atau jasa yang sama selama bertahun-tahun. Hal ini menunjukan bahawa perusahaan tersebut sudah paham cara bertahan di masa-masa sulit dan tetap bisa mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Dengan konsistensi perusahaan, maka perusahaan bisa menilai future value dari perusahaan tersebut.

c. Sebuah bisnis harus memiliki prospek jangka panjang yang baik
Menurut WB, dunia ekonomi terbagi menjadi 2, yaitu kelompok bisnis komoditas dan kelompok waralaba. Nilai Waralaba (franchise value) di sini didefinisikan sebagai :
1. Dibutuhkan atau diinginkan,
2. Tidak punya pesaing,
3. Tidak teregulasi.

Untuk bisa memahami prospek jangka panjang dari sebuah bisnis, pertama-tama tentukan apakah bisnis itu merupakan bisnis komoditas atau waralaba? Jika komoditas, hindari! Kenapa? Karena komoditas menawarkan produk yang hampir-hampir tidak bisa dibedakan dari berbagai produk pesaing. Bisnis komoditas, secara umum adalah bisnis yang memberikan pengembalian rendah dan calon kuat untuk mendapat masalah profit. Hal ini disebabkan mereka hanya bisa berkompetisi dalam hal harga karena produk mereka semua serupa dan hal ini menyebabkan margin menjadi tergerogoti. Cara mereka memperoleh keuntungan dengan menjadi penyedia dengan biaya rendah.

Selain itu, kelebihan waralaba adalah dapat mentolerir kesalahan management. Sebuah waralaba bisa bertahan hidup walau pun dikelola oleh manajemen yang tidak andal, bisnis komoditas tidak.

PRINSIP MANAJEMEN

a. Manajemen harus rasional
Tindakan manajemen paling penting adalah alokasi modal yang dimiliki perusahaan. Manajemen harus bisa menentukan apa yang mesti dilakukan dengan laba perusahaan. Apakah itu menginvestasikan ulang dalam bisnis atau mengembalikan uang kepada pemegang saham sebagai dividen.

Kalau uang tunai ekstra bila diinvestasikan menghasilkan ROE di atas rata-rata (pengembalian lebih tinggi dari modal), maka perusahaan wajib menahan seluruh labanya. Jika tidak mampu, perusahaan bisa mengembalikan uang ekstra tersebut kepada pemegang saham.

b. Manajemen harus jujur apa adanya kepada para pemegang saham
Sebagai investor, kita harus bisa menilai apakah para manajer melaporkan kinerja mereka sepenuhnya dan sejujurnya. Manajemen yang mengakui kesalahan sama lugasnya seperti mengumumkan kesuksesan merupakan ciri dari manajemen yang jujur.

WB sangat menghargai manajemen yang berani melakukan diskusi terbuka untuk mendiskusikan kegagalannya secara terbuka. Orang yang mengakui kesalahannya di muka umum adalah orang-orang yang lebih mungkin memperbaiki kesalahan tersebut.

c. Manajemen harus melawan imperative institusional
Imperatif institusional adalah kecenderungan mengekor dari manajemen korporat untuk meniru perilaku manajer lain, tidak peduli betapa bodoh atau tidak masuk akalnya perilaku tersebut. Jadi rasionalitas manajemen sering kali tertekan ketika imperative institusional turut bermain. Jadi seringkali pengambilan keputusan bukan lagi berdasarkan rasionalitas dan data yang valid, tapi karena ikut-ikutan dengan perilaku manajemen lain.

Penyebab imperative institusional :
1. Manajer tidak bisa mengendalikan keinginan untuk beraktivitas.
2. Sering membandingkan penjualan, laba, dan kompensasi eksekutif dengan perusahaan di dalam mau pun di luar industri mereka.
3. Banyak yang membesar-besarkan kemampuan manajemen mereka sendiri.
4. Kemampuan alokasi yang buruk/sedikit pengalaman mengalokasikan modal.

Prinsip kerja imperative institusional : Kalau A,B,C melakukan hal yang sama, kita sebagai perusahaan D juga harus ikut berperilaku sama.

PRINSIP FINANSIAL

a. Fokus pada ROE, bukan pada EPS
Melihat EPS adalah sebuah tipuan. Sebagian besar perusahaan menahan sebagian dari laba tahun sebelumnya sebagai cara untuk meningkatkan basis ekuitasnya. Tidak ada yang spektakuler saat perusahaan meningkatkan EPS sebesar 10% di saat ekuitasnya juga naik sebesar 10%. Hal ini sama saja seperti tidak ada kenaikan return. Jadi yang perlu dilihat ialah ROE, karena ROE merupakan salah satu cerminan dari kinerja emiten.

WB percaya untuk memperoleh ROE yang baik, hanya bisa dicapai dengan memiliki sedikit saja utang atau tidak ada sama sekali. Memang betul bahwa dengan berutang, perusahaan bisa menaikkan ROE. Namun, alangkah lebih baik bisa memperoleh ROE yang tinggi tanpa bantuan leverage.

b. Hitung laba pemilik untuk mendapatkan cerminan sebenarnya dari nilai
Laba pemilik = Net Profit + depresiasi + depletion + amortiasi – CAPEX dan modal kerja tambahan.

c. Carilah perusahaan dengan margin profit yang tinggi
WB tidak suka dengan manajer dari operasi berbiaya tinggi. Mereka cenderung mencari cara untuk menambah overhead. WB lebih suka dengan manajer yang selalu berusaha mengurangi pengeluaran. Perusahaan wajib menekan biaya dengan keras ketika keuntungan berada di tingkat tertinggi. Jika biaya operasi tinggi maka tidak ada gunanya perusahaan menghasilkan nilai nominal yang besar karena margin profitnya tergerus oleh pengeluaran yang besar.

d. Untuk setiap dollar yang ditahan, apakah perusahaan menghasilkan paling tidak satu dollar nilai pasar?
Peningkatan nilai pasar harus, paling tidak sesuai dengan jumlah laba yang ditahan, satu dolar untuk satu dolar.

PRINSIP PASAR

a. Tentukan nilai bisnis tersebut
Cari perusahaan dengan PE rendah, PBV rendah, dan dividend yield besar. Untuk menilai bisnis, tentukan berapa nilai sebuah perusahaan hari ini, estimasikan total laba tunainya di masa depan, kemudian diskontokan jumlah itu dengan tingkat diskon yang sesuai.

WB selalu mencari perusahaan yang laba masa depannya bisa diprediksi, dan hampir sepasti kupon obligasi. Berapa tingkat diskon yang dipandang sesuai? Jawabannnya : tingkat yang dipandang tidak memiliki resiko.

b. Beli bisnis tersebut dengan diskon signifikan terhadap nilainya
Tujuan dasarnya : mengidentifikasi bisnis yang mendapatkan pengembalian di atas rata-rata, dan kemudian membeli bisnis-bisnis tersebut dengan harga di bawah nilai mereka. Pembelian di bawah nilai perusahaan bisa menciptakan margin aman yang sangat berpengaruh terhadap psikologi investor.

Kenapa harus beli perusahaan jauh di bawah nilai BV? Karena, jika seandainya kita membeli perusahaan 75% dari BV-nya, maka ketika terjadi penurunan signifikan sebesar 10% karena beberapa faktor, kita masih memperoleh pengembalian yang lumayan.

Essential-Buffett

METODE INVESTASI WB

Metode yang digunakan WB merupakan metode investasi fokus. Aturan-aturan investasi fokus sebagai berikut :
1. Konsentrasikan investasi anda dalam perusahaan yang luar biasa yang dijalankan oleh manajemen yang kuat.
2. Batasi jumlah perusahaan yang benar-benar bisa anda pahami. Jika anda hanya mampu memahami 10 perusahaan, maka kelola saja 10 perusahaan. Jika anda bisa mengelola lebih banyak, maka anda diperbolehkan melakukan itu. Anda tidak diharuskan memiliki saham dari sebuah perusahaan di tiap industri yang ada.
3. Berpikirlah jangka panjang, 5-10 tahun minimum, jika bisa lebih.
4. Gejolak bisa terjadi, soo??? Lanjutkan sesuai analisa awal.
5. Harus bisa bersabar. Investasi merupakan kegiatan yang tidak instan. Jika nanti saham yang anda beli sideway, bukan berarti anda salah membeli. Bisa saja, pasar belum menyadari value dari perusahaan tersebut.
6. Jangan panik karena perubahan harga karena seringkali harga pasar tidak mencerminkan nilai sesungguhnya dari perusahaan tersebut. Jika anda tidak mampu menahan panik terhadap perubahan harga secara cepat dan signifikan, anda sangat disarankan untuk berinvestasi pada instrument investasi yang lebih aman.

Sumber Rujukan Situs Untuk Investasi Saham

Berikut rujukan ke beberapa situs yang mungkin berguna dan membantu anda dalam melakukan investasi saham :

1. Bursa Efek Indonesia
logo-idx
BEI baru saja berganti wajah yang entah kenapa data tahun lama tidak ada lagi. Untuk tahun-tahun lama gunakan BEI Lama.

Laporan Keuangan (LK) dan Annual Report (AR)
Baru : Laporan Keuangan dan Tahunan
Lama : Laporan Keuangan dan Tahunan

Keterbukaan Info Emiten
Baru : Keterbukaan Informasi
Lama : Keterbukaan Informasi

2. KSEI
ksei
Info Dividen, HMETD, dan RUPS terkini
Pengumuman Corporate Action

Info Dividen dan Corporate Action Beberapa Tahun Terakhir (ganti ABCD dengan kode emiten yang ingin dicari)
ksei.co.id/services/registered-securities/shares/lc/ABCD

3. Mencari LK dan AR Tahun Lama
morningstar
Ganti ABCD dengan kode emiten yang ingin dicari
quicktake.morningstar.com/stocknet/secdocuments.aspx?symbol=ABCD&country=idn

4. Investopedia
investopedia
Bingung dengan istilah finance, ratio, dan bahasa dewa investasi lainnya? Search saja di Investopedia.

5. Buku Investasi
book-depository-logo
Untuk beli buku investasi, bisa dicoba bookdepository.com. Harganya relatif murah dan sudah termasuk ongkos kirim sampai di tempat. Khusus buku investasi bisa langsung ke halaman Investment & Securities.

6. Kalender dan Data Ekonomi Makro
trading-economics-logo
Kalender Ekonomi Indonesia

Letters and Memo

Para super investor berikut ini rajin menulis surat dan memo secara berkala. Banyak sekali pelajaran tentang investasi, mindset, dan insights yang bisa dipetik dari tulisan mereka.

7. Warren Buffett’s Letters to Berkshire Shareholders
berkshire-hathaway-logo

8. Memos from Howard Marks
oaktree-logo.png

9. Prem Watsa, Chairman’s Letters to Shareholders
fairfax

Channel Youtube untuk Value Investing

10. Talks at Google
googletalks
Ada berbagai topik, khusus investasi anda bisa gunakan dua link di bawah ini
Talks at Google – Investing
Search Google Talks Investing Youtube

11. Investors Archive
ia

Selain sumber di atas, anda juga bisa cari situs emiten yang anda minati dan masuk ke halaman investor. Tidak jarang ada opsi untuk berlangganan via email. Emiten akan mengirimkan keterbukaan info terkini langsung ke email anda. Fitur ini biasanya gratis. Contohnya seperti di bawah ini.

mandiri

Anda punya sumber bacaan lain yang berguna?

Pemula Saham Sebaiknya Mulai Dari Saham Bluechips, Kenapa?

Buat pemula yang baru masuk ke dunia saham, sebaiknya fokus di saham Bluechips.

Beberapa alasan utama pemula sebaiknya fokus di saham-saham Bluechips :

  1. Produk/jasanya biasanya ada di mana-mana sehingga lebih mudah utk kenal bisnisnya.
  2. Biasanya market leader, sehingga pertumbuhannya (dan perlambatannya) seringkali sejalan industrinya.
  3. Biasanya sudah teruji lewati badai, sehingga kemungkinan bisnisnya bertahan lama (bukan jaminan, karena tidak ada yang abadi).
  4. Infonya biasanya lengkap baik yang resmi (AR, LK, Pubex, dan keterbukaan info) maupun tidak resmi (media dan analis banyak yang cover).

No 4 ini sekaligus downside-nya, karena berarti marketnya relatif lebih efisien. Sebaliknya, hal ini “keunggulan” (sekaligus downside untuk kebanyakan orang) saham non likuid/microcaps yaitu infonya sulit didapat, sehingga market cenderung tidak efisien. Tapi kita tidak perlu membahas non-likuid/microcaps, fokus ke bluechips.

Jika kita bicara efisiensi pasar atau Efficient Market Hypothesis (EMH), ini biasanya terjadi di saham-saham bigcaps/bluechip. Karena datanya biasanya lengkap, analis yang cover juga banyak, peminat banyak, maka harga yang terbentuk biasanya lebih sering mencerminkan nilai wajarnya.

Tapi tidak ada yg salah dengan market yang efisien. Toh, jika kinerja emitennya baik, tetap akan menghasilkan return untuk pemilik sahamnya. Menurut Malkiel di bukunya A Random Walk Down Wall Street, investasi adalah membeli suatu aset (misalnya saham, obligasi, properti) untuk mendapatkan keuntungan yang berasal dari (1) pendapatan di masa depan yang dapat diprediksi secara wajar, misalnya dari dividen, bunga deposito, kupon obligasi, pendapatan sewa dari properti, dll; (2) kenaikan nilai wajar dalam jangka panjang (misalnya capital gain dan kenaikan harga properti). Jika tujuannya adalah investasi, arahnya sudah tepat, mencari saham yang potensi kinerjanya bertahun-tahun ke depan masih prospektif.

Yang tidak kalah penting, dengan mulai dari Bluechips — yang biasanya info dan datanya relatif mudah didapat — anda bisa lebih mudah belajar tentang berbagai model bisnis, mengapa mereka bisa bertahan dan menjadi market leader, belajar riset emiten, dan analisa Laporan Keuangan.

Alasan lain, seperti posting sebelumnya disebutkan faktor penggerak IHSG hanya sekitar 20 saham Bigcaps. Artinya, return rata-rata Bluechips setara dengan return IHSG. Return IHSG seperti di tulisan berikut :

IHSG

IHSG 2008 sekitar 1146 vs saat ini 5633 maka selama 10 tahun terakhir CAGR IHSG adalah 17.26%. Namun jika dihitung sejak 1997 IHSG sekitar 724 dan sekarang 2018 IHSG 5633 berarti CAGR IHSG selama 21 tahun terakhir sekitar 10.26%.

Karena alasan ini, maka sangat logis terutama bagi pemula yang berminat jadi investor aktif, mulai dari bluechips… seharusnya anda juga masih mendapatkan return yang cukup.

Kesimpulan

Penggerak IHSG adalah saham-saham big caps. Big Caps biasanya adalah Market Leader di sektornya, disebut juga Bluechips. Return IHSG 10 tahun terakhir sekitar 17% (CAGR, compounding, bunga berbunga). Maka logikanya rata-rata return saham Bluechips setara return IHSG. Karena itu, adalah bijak untuk mulai rencana investasi di saham-saham Bluechips dengan harapan mendapatkan return setara IHSG. Buat gambaran, return 15%/tahun compounding sama dengan menggandakan modal 2x lipat setiap 5 tahun. 10 juta menjadi 20 juta dalam 5 tahun, 20 juta jadi 40 juta 5 tahun berikutnya, dst.

Memiliki Mindset Investasi Yang Tepat

Tidak jarang orang masuk ke dunia saham karena berpikir cari cuan di saham sangat mudah. Beberapa pemula (bahkan beberapa sudah cukup lama di saham) akan dengan entengnya menjawab, “Saya sih gak muluk-muluk ya, cuan 10%/bulan sudah cukuplah.” Dashyat!

Rata-rata investor individu mulai dengan modal yang terbatas. Karena dana terbatas, banyak yang terjebak ingin secepatnya melipatgandakan modalnya. Bahkan dengan menggunakan margin (beli dengan utang). Semakin sering melakukan transaksi jual beli saham dianggap sebanding dengan cuan yang didapat. Tiap kali jual beli cuan 3% saja, bayangkan keuntungannya! Sayangnya, tidak semudah itu. Jika tidak percaya, buktikan sendiri. Sejauh yang saya temui, lebih banyak yang kecewa karena jika berpikir jernih, memang nyaris mustahil apalagi konsisten.

Lalu bagaimana sebaiknya, apa yang bisa saya harapkan dari investasi saham? Berikut beberapa pemikiran yang menurut saya berguna untuk investor saham :
chart data desk document

1. Investasi Butuh Waktu

Di balik setiap kode saham ada bisnis yang berjalan. Mengolah bahan baku menjadi satu produk butuh waktu. Branding produk sampai terkenal dan dicari pelanggan butuh waktu. Dari gudang sampai ke toko dan pemasaran juga butuh waktu. Jika yang kita beli adalah bisnis perusahaan maka tidak ada alasan logis berharap beli hari ini dan besok bisa langsung cuan. Yang logis adalah seiring waktu, harga saham akan mengikuti kinerja bisnis emiten tersebut.

Kutipan dari Warren Buffett tentang hal ini :

“If you aren’t willing to own a stock for ten years, don’t even think about owning it for ten minutes”

“Successful Investing takes time, discipline and patience. No matter how great the talent or effort, some things just take time: You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.”

Dalam konteks ini, sebaliknya jika kita salah memilih investasi di bisnis yang buruk atau merugi, seiring waktu harga sahamnya mengikuti kehancuran bisnis emiten tersebut.

“Time is the friend of the wonderful company, the enemy of the mediocre. – Warren Buffett”

Philip Fisher dalam bukunya Common Stocks and Uncommon Profits and Other Writings juga menulis hal yang senada :

“Such a study indicates that the greatest investment reward comes to those who by good luck or good sense find the occasional company that over the years can grow in sales and profits far more than industry as a whole. It further shows that when we believe we have found such a company we had better stick with it for a long period of time.”

“Even in those earlier times, finding the really outstanding companies and staying with them through all the fluctuations of a gyrating market proved far more profitable to far more people than did the more colorful practice of trying to buy them cheap and sell them dear.”

2. Earning Power

Di bagian awal video di atas, Warren Buffett menjelaskan tentang earning power, hal yang sering dilupakan padahal kita semua punya earning power. Baik dengan bekerja dengan orang lain, profesional, pedagang, dan wiraswasta. Investasi pada diri sendiri sangat penting. Seiring bertambahnya pengalaman, skill, dan pengetahuan, earning power juga akan tumbuh. Jika bisa disiplin menciptakan free cash flow dan menambah investasi secara berkala, tentunya lambat laun dana investasi akan menumpuk.

3. Learning Machine

“I constantly see people rise in life who are not the smartest, sometimes not even the most diligent, but they are learning machines. They go to bed every night a little wiser than they were when they got up and boy does that help, particularly when you have a long run ahead of you.”

Kutipan Munger di atas sudah lebih dari cukup. Jika anda ingin sukses, jadilah learning machine. Setiap hari harus selalu belajar hal baru. Setiap malam menjelang tidur kita tahu hari ini kita sudah sedikit lebih bijak dari kemarin. Termasuk juga di dunia investasi, pastikan setiap hari ada hal baru yang berguna yang kita pelajari demi membantu mengoptimalkan kinerja investasi saham kita.

4. Compounding

Compound interest is the most powerful force in the universe. Those who understand compound interest, earn it. Those who don’t are doomed to pay it

Kembali lagi ke cerita di awal posting ini, tentang orang yang berpikir cuan 10%/bulan itu mudah. Coba pakai calculator (ada banyak di google, cari saja). Masukkan modal awal 12 juta, return 10%/bulan, periode 5 atau 10 tahun misalnya. Masuk akal tidak? Karena logikanya jika bulan ini anda bisa mendapatkan return 10%/bulan dengan modal 100 juta, seharusnya tahun depan anda tetap bisa cuan 10%/bulan dengan dana 300 juta, tahun ketiga bisa cuan 10%/bulan dengan modal 1M … dst. Logis?

Investor selalu menghitung cuan dengan menggunakan compounding return atau CAGR. Dengan logika di atas, sudah jelas jika yang dimaksud compounding, target cuan 10%/bulan adalah mustahil. Lalu berapa target yang lebih realistis?

Sederhananya, jika kita investasi saham di BEI maka underlyingnya adalah saham-saham di BEI atau lebih sederhana lagi, return yang dapat kita harapkan kira-kira setara return IHSG. Berapa return IHSG rata-rata?

IHSG

IHSG 2008 sekitar 1146 vs saat ini 5633 maka selama 10 tahun terakhir CAGR IHSG adalah 17.26%. Namun jika dihitung sejak 1997 IHSG sekitar 724 dan sekarang 2018 IHSG 5633 berarti CAGR IHSG selama 21 tahun terakhir sekitar 10.26%. Silakan ambil kesimpulan sendiri berapa kira-kira return yang realistis anda harapkan dari investasi saham di BEI.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah investasi membutuhkan waktu yang lama untuk dapat memberikan return yang memuaskan. Setiap orang memiliki Earning Power yang seiring waktu juga dapat bertumbuh dan sebagian dari uang tersebut bisa diinvestasikan secara berkala. Jadilah learning machine. Kombinasi bertambahnya earning power, dana investasi yang semakin besar, pengalaman, skill, sifat learning machine, ditambah dashyatnya compounding return… tidaklah mimpi suatu saat anda dapat merasakan nikmatnya investasi…. hanya saja semua butuh waktu.