IHSG Merah? Apa Yang Harus Anda Lakukan?

Setelah mencapai All Time High di level 6689.28 pada tanggal 19 Februari 2018, IHSG terus mengalami koreksi sebesar 15.78% sampai hari ini, 3 Juli 2018 IHSG berada di level 5633.94. Sebagai informasi, ini adalah titik terendah IHSG dalam 52 minggu terakhir.

Apakah yang harus Anda lakukan ketika IHSG merah atau mengalami koreksi? Apakah Anda harus cut loss dan berharap bisa menampung di harga bawah? Jawabannya simple! TIDAK!

Daripada fokus ke IHSG, lebih baik fokus ke watchlist (WL) dan portfolio masing-masing. Hal-hal yang harus diperhatikan misalnya:

  1. Apakah sudah ada yang masuk radar atau valuasinya mulai menarik untuk dilihat?
  2. Apakah ada yang masa depannya kira-kira kurang menjanjikan?
  3. Apakah ada saham di portfolio yang sudah di atas nilai wajarnya dan saatnya untuk TP (Take Profit)?

Kenapa tidak perlu melihat index untuk melakukan keputusan investasi? IHSG itu faktor penggeraknya tidak sampai 20 saham raksasa (big market caps). Jika 20 saham tersebut bukan incaran kita, kenapa kita harus peduli?

Jika valuasi IHSG dirasa sudah mahal, apakah lantas semua emiten mahal? Jawabannya TIDAK! Kalau begitu, kenapa mesti lihat IHSG untuk melakukan keputusan investasi?

캡처

Di atas ini adalah data IHSG per 3 Juli 2018. Lihat total market capitalization IHSG mencapai 6326 Triliun. Misal salah satu emiten di watchlist anda adalah emiten yang market capitalizationnya hanya 200M, hari ini ARA 25% naik menjadi 250M, apa artinya 250M ini dibanding market capitalization IHSG yang mencapai 6326 Triliun? Tentu tidak berpengaruh signifikan.

Selain saham big cap faktor penggerak IHSG, masih ada lebih dari 500 emiten yang tidak begitu mempengaruhi pergerakan IHSG, jadi kenapa Anda harus memperhatikan IHSG untuk melakukan keputusan investasi?

Jadi, siapa yang harus memperhatikan IHSG? Passive investor yang membeli index melalui ETF/Reksadana. Mereka wajib mengamati pergerakan IHSG. Jika Anda bukan passive investor yang membeli index, tidak perlu mempedulikan IHSG untuk melakukan keputusan investasi.

Memang pasti ada efek psikologis ketika IHSG merah dan ini akan mengakibatkan panic selling yang berakibat index terkoreksi semakin dalam. Tapi, sebagai Value Investor, bukankah kita mencari saham yang murah? Nikmati saja masa diskon dan fokus ke watchlist masing-masing. Seperti quote dari Benjamin Graham di buku Intelligent Investor halaman 215

Mr. Market’s job is to provide you with prices; your job is to decide whether it is to your advantage to act on them. You do not have to trade with him just because he constantly begs you to.

Jadi apa yang harus Anda lakukan?

  1. Lakukan riset mendalam mengenai emiten yang Anda pikir bisnisnya bisa Anda pahami. Langkah riset mendalam bisa Anda lihat di sini. Perhatikan juga resiko bisnis emiten tersebut, apakah ada sentimen nilai tukar mata uang dengan USD yang akhir-akhir ini semakin volatil? (Misal emiten yang pendapatan rupiah tetapi bahan baku impor menggunakan USD).
  2. Buat watchlist emiten yang menurut Anda menarik dan tentukan harga yang menurut Anda pantas untuk mendapatkan bagian dari bisnis tersebut.
  3. Sekali lagi, jangan fokus ke IHSG untuk mengambil keputusan investasi, tetapi perhatikan emiten di watchlist Anda. Apabila sudah ada yang masuk di range harga yang menurut Anda cocok, HAKA!

Memiliki Mindset Investasi Yang Tepat

Tidak jarang orang masuk ke dunia saham karena berpikir cari cuan di saham sangat mudah. Beberapa pemula (bahkan beberapa sudah cukup lama di saham) akan dengan entengnya menjawab, “Saya sih gak muluk-muluk ya, cuan 10%/bulan sudah cukuplah.” Dashyat!

Rata-rata investor individu mulai dengan modal yang terbatas. Karena dana terbatas, banyak yang terjebak ingin secepatnya melipatgandakan modalnya. Bahkan dengan menggunakan margin (beli dengan utang). Semakin sering melakukan transaksi jual beli saham dianggap sebanding dengan cuan yang didapat. Tiap kali jual beli cuan 3% saja, bayangkan keuntungannya! Sayangnya, tidak semudah itu. Jika tidak percaya, buktikan sendiri. Sejauh yang saya temui, lebih banyak yang kecewa karena jika berpikir jernih, memang nyaris mustahil apalagi konsisten.

Lalu bagaimana sebaiknya, apa yang bisa saya harapkan dari investasi saham? Berikut beberapa pemikiran yang menurut saya berguna untuk investor saham :
chart data desk document

1. Investasi Butuh Waktu

Di balik setiap kode saham ada bisnis yang berjalan. Mengolah bahan baku menjadi satu produk butuh waktu. Branding produk sampai terkenal dan dicari pelanggan butuh waktu. Dari gudang sampai ke toko dan pemasaran juga butuh waktu. Jika yang kita beli adalah bisnis perusahaan maka tidak ada alasan logis berharap beli hari ini dan besok bisa langsung cuan. Yang logis adalah seiring waktu, harga saham akan mengikuti kinerja bisnis emiten tersebut.

Kutipan dari Warren Buffett tentang hal ini :

“If you aren’t willing to own a stock for ten years, don’t even think about owning it for ten minutes”

“Successful Investing takes time, discipline and patience. No matter how great the talent or effort, some things just take time: You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.”

Dalam konteks ini, sebaliknya jika kita salah memilih investasi di bisnis yang buruk atau merugi, seiring waktu harga sahamnya mengikuti kehancuran bisnis emiten tersebut.

“Time is the friend of the wonderful company, the enemy of the mediocre. – Warren Buffett”

Philip Fisher dalam bukunya Common Stocks and Uncommon Profits and Other Writings juga menulis hal yang senada :

“Such a study indicates that the greatest investment reward comes to those who by good luck or good sense find the occasional company that over the years can grow in sales and profits far more than industry as a whole. It further shows that when we believe we have found such a company we had better stick with it for a long period of time.”

“Even in those earlier times, finding the really outstanding companies and staying with them through all the fluctuations of a gyrating market proved far more profitable to far more people than did the more colorful practice of trying to buy them cheap and sell them dear.”

2. Earning Power

Di bagian awal video di atas, Warren Buffett menjelaskan tentang earning power, hal yang sering dilupakan padahal kita semua punya earning power. Baik dengan bekerja dengan orang lain, profesional, pedagang, dan wiraswasta. Investasi pada diri sendiri sangat penting. Seiring bertambahnya pengalaman, skill, dan pengetahuan, earning power juga akan tumbuh. Jika bisa disiplin menciptakan free cash flow dan menambah investasi secara berkala, tentunya lambat laun dana investasi akan menumpuk.

3. Learning Machine

“I constantly see people rise in life who are not the smartest, sometimes not even the most diligent, but they are learning machines. They go to bed every night a little wiser than they were when they got up and boy does that help, particularly when you have a long run ahead of you.”

Kutipan Munger di atas sudah lebih dari cukup. Jika anda ingin sukses, jadilah learning machine. Setiap hari harus selalu belajar hal baru. Setiap malam menjelang tidur kita tahu hari ini kita sudah sedikit lebih bijak dari kemarin. Termasuk juga di dunia investasi, pastikan setiap hari ada hal baru yang berguna yang kita pelajari demi membantu mengoptimalkan kinerja investasi saham kita.

4. Compounding

Compound interest is the most powerful force in the universe. Those who understand compound interest, earn it. Those who don’t are doomed to pay it

Kembali lagi ke cerita di awal posting ini, tentang orang yang berpikir cuan 10%/bulan itu mudah. Coba pakai calculator (ada banyak di google, cari saja). Masukkan modal awal 12 juta, return 10%/bulan, periode 5 atau 10 tahun misalnya. Masuk akal tidak? Karena logikanya jika bulan ini anda bisa mendapatkan return 10%/bulan dengan modal 100 juta, seharusnya tahun depan anda tetap bisa cuan 10%/bulan dengan dana 300 juta, tahun ketiga bisa cuan 10%/bulan dengan modal 1M … dst. Logis?

Investor selalu menghitung cuan dengan menggunakan compounding return atau CAGR. Dengan logika di atas, sudah jelas jika yang dimaksud compounding, target cuan 10%/bulan adalah mustahil. Lalu berapa target yang lebih realistis?

Sederhananya, jika kita investasi saham di BEI maka underlyingnya adalah saham-saham di BEI atau lebih sederhana lagi, return yang dapat kita harapkan kira-kira setara return IHSG. Berapa return IHSG rata-rata?

IHSG

IHSG 2008 sekitar 1146 vs saat ini 5633 maka selama 10 tahun terakhir CAGR IHSG adalah 17.26%. Namun jika dihitung sejak 1997 IHSG sekitar 724 dan sekarang 2018 IHSG 5633 berarti CAGR IHSG selama 21 tahun terakhir sekitar 10.26%. Silakan ambil kesimpulan sendiri berapa kira-kira return yang realistis anda harapkan dari investasi saham di BEI.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah investasi membutuhkan waktu yang lama untuk dapat memberikan return yang memuaskan. Setiap orang memiliki Earning Power yang seiring waktu juga dapat bertumbuh dan sebagian dari uang tersebut bisa diinvestasikan secara berkala. Jadilah learning machine. Kombinasi bertambahnya earning power, dana investasi yang semakin besar, pengalaman, skill, sifat learning machine, ditambah dashyatnya compounding return… tidaklah mimpi suatu saat anda dapat merasakan nikmatnya investasi…. hanya saja semua butuh waktu.

Munger and Buffett’s Checklist For Picking A Company To Invest In

That’s a very simple set of ideas. And the reason our ideas haven’t spread faster is they’re too simple.

Munger and Buffett’s checklist for picking a company to invest in:
munger1
1. We have to deal in things we’re capable of understanding
2. We have to have a business with some intrinsic characteristics that give it a durable competitive advantage
3. We would prefer a management with a lot of integrity and talent,
4. And finally, no matter how wonderful it is, it’s not worth an infinite price. So we have to have a price that makes sense and gives a margin of safety, given the natural vicissitudes of life.

Watch the video : Charlie Munger Reveals Secrets to Getting Rich