Di Mana Mencari LK, Pubex, AR emiten?

Karena beberapa orang masih kesulitan mencari data Laporan Keuangan (LK), Public Expose (Pubex), Annual Report (AR) dan keterbukaan info resmi emiten, maka tulisan singkat ini mudah-mudahan bisa membantu. Berikut ini cara mencari LK, Pubex, AR emiten, dan keterbukaan info resmi emiten :

1. BEI

Ada dua halaman utama yang penting bagi investor :

a. Laporan Keuangan dan Tahunan
Misalkan anda ingin mencari LK BBCA 2018, maka ketik BBCA di kolom kode dan pilih periode yang sesuai. Biasanya ada beberapa files yang muncul dan nama filesnya tidak konsisten. Maka anda mungkin harus buka beberapa files pdf tersebut. Yang anda cari adalah LK lengkap dengan CALK (Catatan Atas Laporan Keuangan).

LK BBCA 2018 di BEI
LK BBCA 2018 di BEI

b. Keterbukaan Informasi
Di halaman ini anda akan menemukan semua keterbukaan informasi emiten. Mulai dari Aksi Korporasi, Transaksi Material, Laporan Bulanan Pemegang Saham, dan lain-lain termasuk LK, Pubex, dan AR. Anda bisa mencari spesifik kode saham tertentu dan juga menggunakan kata kunci, misalnya “Public Expose”

Hasil pencarian "Public Expose" di BEI
Hasil pencarian “Public Expose” di BEI

2. Stocks.Asia

BEI sumber utamanya tapi kadang sering lemot (feedback buat mimin BEI 🙂 ). Ada alternatif lain. Kekurangannya mungkin agak telat sedikit . Tapi dari pengalaman pribadi cukup cepat updatenya walau kadang ada yang telat atau satu dua files terlewatkan.

Misalkan mau mencari LK ABCD maka pilih sumbernya “BEI(IDX)” dan ketik “ABCD+Laporan Keuangan”. Contoh berikut hasil pencarian LK ASII 2018.

Hasil pencarian LK ASII di Stocks.Asia
Hasil pencarian LK ASII di Stocks.Asia

Uniknya, kita menemukan LK ASII 2018 melalui pencarian ini tapi jika kita cek ke halaman Laporan Keuangan dan Tahunan di BEI, tidak ada (feedback lagi untuk mimin BEI 😛). Jadi cara ini kadang lebih cepat dan mudah mencari data.

LK ASII 2018 belum ada di BEI
LK ASII 2018 belum ada di BEI

Hal yang sama jika mau mencari Public Expose, Laporan Tahunan, dan lain-lain. Cara lain, andai ingin melihat LK terakhir yang baru rilis, ketik Laporan Keuangan (atau bisa juga Keuangan saja) dan pilih sumbernya “BEI(IDX)”, maka akan muncul LK yang baru rilis.

Hasil pencarian Laporan Keuangan di Stocks.Asia
Hasil pencarian Laporan Keuangan di Stocks.Asia

3. Situs Resmi Emiten

Tentu saja, sumber resmi lainnya adalah situs resmi emiten tersebut. Walau tergantung tiap emiten, ada yang rajin update, ada juga yang kudet. Cari situs resmi emiten dan buka halaman “Investor Relation”. Contohnya
Halaman Investor Relation emiten KLBF

Halaman Investor Relation emiten KLBF
Halaman Investor Relation emiten KLBF

Demikian, semoga terbantu.

Bedah Buku : The Little Book of Valuation by Aswath Damodaran

Berikut adalah bedah buku ketiga yang baru saja dipresentasikan oleh @JaneSingleton di Jim Bear Club.

All valuations are biased.. you almost never start valuing a company with a blank slate – Damodaran

Ada 5 tema besar yang disajikan Prof Damodaran di buku ini. Lima tema besar tersebut:

1. Foundation (Konsep, Pendekatan)
2. Intrinsic Valuation
3. Relative Valuation
4. Valuasi perusahaan sesuai siklusnya (life cycle)
5. Valuasi untuk kasus-kasus khusus

Tema 1 – FOUNDATION

Konsep

Main principle in investing: an investor does not pay more for an asset than it is worth. Untuk tahu berapa value/nilainya maka kita dalam konteks sebagai investor pasar modal perlu tahu cara valuasi suatu emiten.

Kesalahpahaman dalam valuasi:

Kesalahpahaman 1: Tujuan dari valuasi adalah untuk mendapatkan nilai saham yang sebenarnya (‘true’ value)

o All valuations are biased
Pada saat seseorang memilih suatu emiten yang akan dianalisa/divaluasi, biasanya sudah ada pre-conception mengenai emiten tersebut: emiten ini ada di porto samwan, foreign big fund manager lagi akumulasi sahamnya, ada ‘news’ mengenai emiten ini media, terlanjur punya sahamnya di porto, dsb. Secara tidak sadar bias ini akan masuk dalam model valuasi yang dilakukan, bisa jadi dalam perhitungan forecast growth yang terlalu optimis, memandang emiten ini tidak akan bangkrut (safe/less risky), dsb.

Yang perlu dilakukan adalah menyadari bias ini dan dicatat apa saja biasnya, jadi saat melakukan valuasi bisa di-crosscheck dengan daftar biasnya. Karena ada bias dalam valuasi, maka valuasi yang didapatkan bisa berbeda-beda untuk tiap orang, jadi tidak ada ‘true’ value yang acceptable/applicable untuk semua orang.

Kesalahpahaman 2: Valuasi yang bagus adalah valuasi yang menghasilkan estimasi yang akurat.

o Tidak ada valuasi yang akurat karena pada dasarnya kita melakukan forecast dan sangat memungkinkan forecast yang kita lakukan tidak match dengan actual/real numbernya. Misal di tahun depan kita forecast emiten A revenue growth-nya bakal naik 10% tahun depan. Ternyata di tahun tersebut rev growthnya cuma 5%. Dari situ kita bisa analisa apakah kita terlalu optimis saat put growth rate? Apakah underestimate kompetitor? Story yang kita build tidak memperhitungkan regulasi pemerintah? dsb. Jadi makin banyak salahnya makin nambah ilmunya.

Kesalahpahaman 3: Semakin kompleks model valuasi yang digunakan, semakin bagus hasilnya.

o Semakin simpel model valuasi yang digunakan dan benar-benar dikuasai, itu lebih baik dibanding menggunakan model yang kompleks. Semakin kompleks model, butuh data input yang lebih banyak, dan akan lebih tinggi probabilitas kesalahan saat input data.

Pada dasarnya output dari valuasi kita gunakan untuk:
Basis for wait/buy/stay away
Valuasi ini juga dipakai untuk menjawab pertanyaan terakhir dari Pertanyaan Penting Sebelum Membeli Saham

Basis for something to hold on to.
Saat market bearish, panic selling, atau lagi cocktail party, kita punya valuasi tersebut untuk secara jernih dan logis menganalisa apakah jatuhnya saham emiten kita karena kinerja buruk temporarily atau permanently, atau karena isu eksternal yang tidak ada kaitannya dengan bisnis emiten. Kalau kinerja masih ok, harga saham jatuh, kita bisa santai average down. Atau kalau current market sudah tidak sesuai perhitungan valuasi, kita bisa putuskan apakah tetap di-keep atau waktunya dijual. Jadi jangan sampai udah susah payah bedah bisnis emiten, bedah LK, entry and adjust numbers ke model sampai didapat nilai wajar emiten… terus IHSG merah padam ato ijo royo2 dan kita terburu2 buki/haka. Harus jernih dan tetap lihat performa emiten, apakah revenue turun tifis tapi prospek ke depan masih kinclong sedangkan price turun lebih banyak dan masih ok untuk di-haka? Atau management yang baru koplak atau tidak peduli dengan shareholder minoritas atau tidak punya integritas jadi perlu segera buki? Dst.

Valuasi bukan one-time exercise, perlu di-revisit secara berkala untuk memastikan asumsi yang dipakai masih relevan sesuai perkembangan bisnis emiten tersebut atau perlu diadjust dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi bisnis perusahaan.

bridging-the-gap

Pendekatan

Di buku disebutkan ada 2 pendekatan dalam melakukan valuasi

1. Intrinsic Valuation

Dasar valuasi: kemampuan perusahaan untuk generate cash flow di masa mendatang dan tingkat kepastian/ketidakpastian realisasi dari cash flow tersebut (risiko).

Asumsi yang digunakan: market salah kasih harga untuk emiten yang kita valuasi saat ini dan akan terkoreksi di masa depan (long time horizon).

Intrinsic valuation simpelnya adalah kita forecast/estimasi pertumbuhan bisnis perusahaan untuk mendapatkan future cashflownya dan future cash flow-nya diconvert ke nilai saat ini (Discounted Cash Flow). Estimasi pertumbuhan bisnis ini ngga mudah, perlu cari tahu nature bisnis emiten, moat-nya, maturity emiten saat ini, kemampuan/insight managementnya, dll untuk bisa estimasi pertumbuhan kedepannya. Makanya di JBC dianjurkan untuk pahami bisnis emiten dulu sebelum ke valuasi.

2. Relative Valuation

Dasar valuasi: membandingkan harga yang terbentuk di market untuk emiten yang bisnisnya sama dengan emiten yang divaluasi (peer valuation).

Asumsi yang digunakan: harga saat ini di market untuk sektor yang kita valuasi secara rata-rata sudah mencerminkan nilai wajar namun Mr. Market salah kasih harga untuk emiten yang kita valuasi.

Parameter yang digunakan untuk perbandingan: rasio-rasio.

Tema 2 – INTRINSIC VALUATION

Dasar valuasi: kemampuan perusahaan untuk generate cash flow di masa mendatang dan tingkat kepastian/ketidakpastian realisasi dari cash flow tersebut (risiko)

Ada 2 pendekatan:
Firm valuation: valuasi perusahaan secara keseluruhan untuk menghitung potensi cash flow untuk semua stakeholder perusahaan: pemegang saham umum, pemberi utang, pemegang saham preferen
Equity valuation: valuasi equitas perusahaan ut menghitung potensi cash flow untuk pemegang saham umum

Equity valuation lebih simpel karena straightforward. Tapi untuk perusahaan yang ekuitasnya negatif (bisa karena terus menerus rugi atau kebutuhan reinvestment lebih besar dari laba) bisa gunakan firm valuation.

Input:
• Cash flows
• Expected growth rates
• Discount rates
• Terminal values

cashflow valuation

Terminal point adalah suatu waktu yang kita asumsikan perusahaan dalam kondisi:
o Sudah tidak meneruskan bisnisnya (likuidasi)
Terminal value-nya adalah nilai aset hasil likuidasi
o Bisnis tetap jalan selamanya dengan pertumbuhan yang konstan (steady state)
Terminal value-nya adalah total cash flow dari terminal point dan seterusnya selamanya.

Tool:
• DCF (Discounted Cash Flow): Nilai intrinsic dari suatu emiten adalah total expected future cash flow di masa mendatang yang diconvert ke nilainya saat ini (present value).
Output:
• Value per share

Yang harus diperhatikan adalah discount rate harus sesuai dengan cashflow yang digunakan.

dcf

PENUTUP

Model valuasi bisa dibuat simpel hanya dengan langsung estimasi growth rate cashflow untuk tiap stage/siklus bisnis emiten dan apply growth rate tersebut ke cash flow. Atau bisa dibuat lebih kompleks di mana kita estimasi pertumbuhan dan/atau penurunan market share, price per unit untuk dapetin revenue, kenaikan/penurunan HPP, operating cost untuk dapetin margin, investment rate, tax rate, dll untuk masing-masing stage. Jadi kembali ke point awal, kita musti bikin cerita dari bisnis emiten tersebut, dan untuk tahu ini perlu banyak baca/belajar bisnis emiten tsb di masa lalu atau emiten sejenis.

Jadi valuasi bukan hanya sekedar plug in numbers ke rumus tapi mengerti arti dari number yang dipakai beserta asumsi yg dipakai.

Pranala terkait :

1. The Little Book of Valuation : How to Value a Company, Pick a Stock and Profit By Aswath Damodaran

2. The Little Book of Valuation – Situs Damodaran

Sumber Rujukan Situs Untuk Investasi Saham

Berikut rujukan ke beberapa situs yang mungkin berguna dan membantu anda dalam melakukan investasi saham :

1. Bursa Efek Indonesia
logo-idx
BEI baru saja berganti wajah yang entah kenapa data tahun lama tidak ada lagi. Untuk tahun-tahun lama gunakan BEI Lama.

Laporan Keuangan (LK) dan Annual Report (AR)
Baru : Laporan Keuangan dan Tahunan
Lama : Laporan Keuangan dan Tahunan

Keterbukaan Info Emiten
Baru : Keterbukaan Informasi
Lama : Keterbukaan Informasi

2. KSEI
ksei
Info Dividen, HMETD, dan RUPS terkini
Pengumuman Corporate Action

Info Dividen dan Corporate Action Beberapa Tahun Terakhir (ganti ABCD dengan kode emiten yang ingin dicari)
ksei.co.id/services/registered-securities/shares/lc/ABCD

3. Mencari LK dan AR Tahun Lama
morningstar
Ganti ABCD dengan kode emiten yang ingin dicari
quicktake.morningstar.com/stocknet/secdocuments.aspx?symbol=ABCD&country=idn

4. Investopedia
investopedia
Bingung dengan istilah finance, ratio, dan bahasa dewa investasi lainnya? Search saja di Investopedia.

5. Buku Investasi
book-depository-logo
Untuk beli buku investasi, bisa dicoba bookdepository.com. Harganya relatif murah dan sudah termasuk ongkos kirim sampai di tempat. Khusus buku investasi bisa langsung ke halaman Investment & Securities.

6. Kalender dan Data Ekonomi Makro
trading-economics-logo
Kalender Ekonomi Indonesia

Letters and Memo

Para super investor berikut ini rajin menulis surat dan memo secara berkala. Banyak sekali pelajaran tentang investasi, mindset, dan insights yang bisa dipetik dari tulisan mereka.

7. Warren Buffett’s Letters to Berkshire Shareholders
berkshire-hathaway-logo

8. Memos from Howard Marks
oaktree-logo.png

9. Prem Watsa, Chairman’s Letters to Shareholders
fairfax

Channel Youtube untuk Value Investing

10. Talks at Google
googletalks
Ada berbagai topik, khusus investasi anda bisa gunakan dua link di bawah ini
Talks at Google – Investing
Search Google Talks Investing Youtube

11. Investors Archive
ia

Selain sumber di atas, anda juga bisa cari situs emiten yang anda minati dan masuk ke halaman investor. Tidak jarang ada opsi untuk berlangganan via email. Emiten akan mengirimkan keterbukaan info terkini langsung ke email anda. Fitur ini biasanya gratis. Contohnya seperti di bawah ini.

mandiri

Anda punya sumber bacaan lain yang berguna?

Pemula Saham Sebaiknya Mulai Dari Saham Bluechips, Kenapa?

Buat pemula yang baru masuk ke dunia saham, sebaiknya fokus di saham Bluechips.

Beberapa alasan utama pemula sebaiknya fokus di saham-saham Bluechips :

  1. Produk/jasanya biasanya ada di mana-mana sehingga lebih mudah utk kenal bisnisnya.
  2. Biasanya market leader, sehingga pertumbuhannya (dan perlambatannya) seringkali sejalan industrinya.
  3. Biasanya sudah teruji lewati badai, sehingga kemungkinan bisnisnya bertahan lama (bukan jaminan, karena tidak ada yang abadi).
  4. Infonya biasanya lengkap baik yang resmi (AR, LK, Pubex, dan keterbukaan info) maupun tidak resmi (media dan analis banyak yang cover).

No 4 ini sekaligus downside-nya, karena berarti marketnya relatif lebih efisien. Sebaliknya, hal ini “keunggulan” (sekaligus downside untuk kebanyakan orang) saham non likuid/microcaps yaitu infonya sulit didapat, sehingga market cenderung tidak efisien. Tapi kita tidak perlu membahas non-likuid/microcaps, fokus ke bluechips.

Jika kita bicara efisiensi pasar atau Efficient Market Hypothesis (EMH), ini biasanya terjadi di saham-saham bigcaps/bluechip. Karena datanya biasanya lengkap, analis yang cover juga banyak, peminat banyak, maka harga yang terbentuk biasanya lebih sering mencerminkan nilai wajarnya.

Tapi tidak ada yg salah dengan market yang efisien. Toh, jika kinerja emitennya baik, tetap akan menghasilkan return untuk pemilik sahamnya. Menurut Malkiel di bukunya A Random Walk Down Wall Street, investasi adalah membeli suatu aset (misalnya saham, obligasi, properti) untuk mendapatkan keuntungan yang berasal dari (1) pendapatan di masa depan yang dapat diprediksi secara wajar, misalnya dari dividen, bunga deposito, kupon obligasi, pendapatan sewa dari properti, dll; (2) kenaikan nilai wajar dalam jangka panjang (misalnya capital gain dan kenaikan harga properti). Jika tujuannya adalah investasi, arahnya sudah tepat, mencari saham yang potensi kinerjanya bertahun-tahun ke depan masih prospektif.

Yang tidak kalah penting, dengan mulai dari Bluechips — yang biasanya info dan datanya relatif mudah didapat — anda bisa lebih mudah belajar tentang berbagai model bisnis, mengapa mereka bisa bertahan dan menjadi market leader, belajar riset emiten, dan analisa Laporan Keuangan.

Alasan lain, seperti posting sebelumnya disebutkan faktor penggerak IHSG hanya sekitar 20 saham Bigcaps. Artinya, return rata-rata Bluechips setara dengan return IHSG. Return IHSG seperti di tulisan berikut :

IHSG

IHSG 2008 sekitar 1146 vs saat ini 5633 maka selama 10 tahun terakhir CAGR IHSG adalah 17.26%. Namun jika dihitung sejak 1997 IHSG sekitar 724 dan sekarang 2018 IHSG 5633 berarti CAGR IHSG selama 21 tahun terakhir sekitar 10.26%.

Karena alasan ini, maka sangat logis terutama bagi pemula yang berminat jadi investor aktif, mulai dari bluechips… seharusnya anda juga masih mendapatkan return yang cukup.

Kesimpulan

Penggerak IHSG adalah saham-saham big caps. Big Caps biasanya adalah Market Leader di sektornya, disebut juga Bluechips. Return IHSG 10 tahun terakhir sekitar 17% (CAGR, compounding, bunga berbunga). Maka logikanya rata-rata return saham Bluechips setara return IHSG. Karena itu, adalah bijak untuk mulai rencana investasi di saham-saham Bluechips dengan harapan mendapatkan return setara IHSG. Buat gambaran, return 15%/tahun compounding sama dengan menggandakan modal 2x lipat setiap 5 tahun. 10 juta menjadi 20 juta dalam 5 tahun, 20 juta jadi 40 juta 5 tahun berikutnya, dst.

IHSG Merah? Apa Yang Harus Anda Lakukan?

Setelah mencapai All Time High di level 6689.28 pada tanggal 19 Februari 2018, IHSG terus mengalami koreksi sebesar 15.78% sampai hari ini, 3 Juli 2018 IHSG berada di level 5633.94. Sebagai informasi, ini adalah titik terendah IHSG dalam 52 minggu terakhir.

Apakah yang harus Anda lakukan ketika IHSG merah atau mengalami koreksi? Apakah Anda harus cut loss dan berharap bisa menampung di harga bawah? Jawabannya simple! TIDAK!

Daripada fokus ke IHSG, lebih baik fokus ke watchlist (WL) dan portfolio masing-masing. Hal-hal yang harus diperhatikan misalnya:

  1. Apakah sudah ada yang masuk radar atau valuasinya mulai menarik untuk dilihat?
  2. Apakah ada yang masa depannya kira-kira kurang menjanjikan?
  3. Apakah ada saham di portfolio yang sudah di atas nilai wajarnya dan saatnya untuk TP (Take Profit)?

Kenapa tidak perlu melihat index untuk melakukan keputusan investasi? IHSG itu faktor penggeraknya tidak sampai 20 saham raksasa (big market caps). Jika 20 saham tersebut bukan incaran kita, kenapa kita harus peduli?

Jika valuasi IHSG dirasa sudah mahal, apakah lantas semua emiten mahal? Jawabannya TIDAK! Kalau begitu, kenapa mesti lihat IHSG untuk melakukan keputusan investasi?

캡처

Di atas ini adalah data IHSG per 3 Juli 2018. Lihat total market capitalization IHSG mencapai 6326 Triliun. Misal salah satu emiten di watchlist anda adalah emiten yang market capitalizationnya hanya 200M, hari ini ARA 25% naik menjadi 250M, apa artinya 250M ini dibanding market capitalization IHSG yang mencapai 6326 Triliun? Tentu tidak berpengaruh signifikan.

Selain saham big cap faktor penggerak IHSG, masih ada lebih dari 500 emiten yang tidak begitu mempengaruhi pergerakan IHSG, jadi kenapa Anda harus memperhatikan IHSG untuk melakukan keputusan investasi?

Jadi, siapa yang harus memperhatikan IHSG? Passive investor yang membeli index melalui ETF/Reksadana. Mereka wajib mengamati pergerakan IHSG. Jika Anda bukan passive investor yang membeli index, tidak perlu mempedulikan IHSG untuk melakukan keputusan investasi.

Memang pasti ada efek psikologis ketika IHSG merah dan ini akan mengakibatkan panic selling yang berakibat index terkoreksi semakin dalam. Tapi, sebagai Value Investor, bukankah kita mencari saham yang murah? Nikmati saja masa diskon dan fokus ke watchlist masing-masing. Seperti quote dari Benjamin Graham di buku Intelligent Investor halaman 215

Mr. Market’s job is to provide you with prices; your job is to decide whether it is to your advantage to act on them. You do not have to trade with him just because he constantly begs you to.

Jadi apa yang harus Anda lakukan?

  1. Lakukan riset mendalam mengenai emiten yang Anda pikir bisnisnya bisa Anda pahami. Langkah riset mendalam bisa Anda lihat di sini. Perhatikan juga resiko bisnis emiten tersebut, apakah ada sentimen nilai tukar mata uang dengan USD yang akhir-akhir ini semakin volatil? (Misal emiten yang pendapatan rupiah tetapi bahan baku impor menggunakan USD).
  2. Buat watchlist emiten yang menurut Anda menarik dan tentukan harga yang menurut Anda pantas untuk mendapatkan bagian dari bisnis tersebut.
  3. Sekali lagi, jangan fokus ke IHSG untuk mengambil keputusan investasi, tetapi perhatikan emiten di watchlist Anda. Apabila sudah ada yang masuk di range harga yang menurut Anda cocok, HAKA!